Siapa sangka, usia dua puluh tahun itu sesepi ini? Rasanya hidup hanya sekadar hidup, menghabiskan jatah di dunia. Sama sekali tidak ada yang memang ditunggu-tunggu. Semuanya mengalir saja sesuai kehendak sang pemilik takdir.
Suhu udara ibu kota malam ini sedikit berbeda. Hawa panasnya cukup tertekan oleh angin-angin pembawa hujan. Aku menengadah, menebak apakah langit itu gelap karena malam atau memang di balik sana genangan air siap menjelma menjadi ribuan rintik yang mengeroyok bumi. Dan asumsiku jatuh pada—bahwa langit itu sedang menyimpan amarahnya, karena dua detik yang lalu ia meraung kasar bersama angkuhnya kilatan petir.
Helaan napas lolos dari mulutku, kemudian tak lama lagi helaan kedua kembali terdengar seusai aku melirik arloji kecil yang melingkar cantik di pergelangan tangan ringkihku. Pantas saja hiruk-pikuk kota padat ini terasa lengang.
Pukul sebelas lewat limapuluh delapan, artinya dalam waktu dua menit aku memasuki masa dua puluh satu. Sejujurnya aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena berhasil menyentuh masa hidup di angka itu, karena sepanjangnya aku hanya hidup selayaknya perempuan kecil yang tak pernah ingin dikenal dunia. Jadi, memang biasa saja.
Aku menunduk, menunggu dua menit itu berlalu. Pandanganku jatuh pada ujung sepatu yang berdebu—maklum, seharian ini memang hectic sekali di kantor. Berjalan ke hilir mudik mengurus data asset yang diminta tim auditor.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday, happy birthday
Happy birthday to you
Suara setengah parau membawaku kembali pada kenyataan. Aku menoleh untuk memastikan bahwa suara itu bukan dari alam lain ataupun milik makhluk ghaib yang menunggui halte ini. Dan saat itu, entah kenapa senyumku merekah. Entah kebetulan macam apa, kenapa ia bisa tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku.
Lelaki dengan seragam pasien rumah sakit seberang menyodorkan kue kecil lengkap dengan lilin ramping di tengahnya, sembari ia berkata, "Make a wish dulu, Mbak. Saya bantu amin-kan."
Aku menurutinya. Sambil terpejam, kali ini doaku tidak banyak. Mauku tidak sebanyak ketika aku kecil. Karena di usia dewasa ini rentan sekali hilang arah dan salah jalan. Maka, yang aku minta cukup beri aku petunjuk untuk setiap proses hidupku. Hanya itu. Sudah cukup.
Seusai memohon, aku meniup lilin kecil yang menancap hingga apinya padam. Sekali lagi aku tersenyum. Kali ini pandangan kami saling bertaut. Ia pun ikut tersenyum, lalu mengambil lahan kosong di sampingku.
"Selamat ulang tahun, ya, Mbak," katanya tulus. Aku bisa merasakannya.
Kepalaku mengangguk dua kali. "Terima kasih, ya."
"Terima kasih juga, sudah bertahan sejauh ini, ya, Mbak. Hebat loh! Keren! Nanti lebih semangat lagi, ya," pesannya.
"Ya, semoga aja." Aku menjawab pendek.
Kupikir akan selesai di situ. Ternyata percakapan kami berlanjut, meskipun saat itu sudah lewat tengah malam.